Pages

About Me

Total Pageviews

RSS

PERHITUNGAN PESTISIDA: PENENTUAN DOSIS, KONSENTRASI, VOLUME SEMPROT DAN KALIBRASI

PERHITUNGAN PESTISIDA: PENENTUAN DOSIS, KONSENTRASI, VOLUME SEMPROT DAN KALIBRASI
(Laporan Praktikum Pengendalian Hama Tanaman)







Oleh

Farida Lukmi
1514121052
Kelompok 11






Image result for logo unila hitam putih





JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I.        PENDAHULUAN



1.1    Latar Belakang

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa laju pertumbuhan penduduk Indonesia selama periode 2000-2010 lebih tinggi dibanding periode 1990-2000. Laju pertumbuhan penduduk 2000-2010 mencapai 1,49 persen atau lebih tinggi dibanding periode 1990-2000 yang hanya mencapai 1,45%, sesuai dengan hasil sensus tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237,56  juta jiwa. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan 237,56 juta jiwa dibutuhkan lahan produktif untuk tanaman pangan seluas 13 juta ha, namun saat ini lahan tanaman pangan yang diolah seluas 7,7 ha, jika pertambahan penduduk setiap tahunnya sebesar 1,49% atau bahkan lebih, maka dengan sendirinya akan mendatangkan masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, kelaparan, kekumuhan kota, berkurangnya daya dukung lahan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Tidak seimbangnya jumlah penduduk dengan produksi pangan di Indonesia membuat banyak instansi pemerintah yang berkaitan dengan pangan dan ekonomi pun ikut dipusingkan dengannya. Tanah ultisol merupakan bagian terluas dari lahan kering di Indonesia yang belum dipergunakan untuk pertanian, tersebar di daerah sumatra, Kaliamntan, Sulawesi dan Irian jaya. Daerah-daerah ini direncanakan sebagai daerah perluasan arel pertanian dan pembinaan transmigrasi. Sebagian besar merupakan hutan tropika dan padang alang-alang. Problema tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tingggi sehingga menjadi racun tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsur hara rendah, diperlukan tindakan pengapuran dan pemupukan (Hardjowigeno, 2003).


Selain itu juga iklim Indonesia yang merupakan iklim tropis membuat pertumbuhan organisme pengganggu tanaman semakin subur. Akibatnya produksi pertanian di Indonesia akan sulit jika organisme pengganggu tanaman tidak dikendalikan dengan tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan perhitungan pestisida dalam pengaplikasiannya untuk mendapatkan hasil pengendalian yang optimal.

1.2    Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah:
1.        Mengetahui penentuan dosis, konsentrasi dan volume semprot yang tepat.
2.        Mengetahui dan memahami tentang pentingnya alat aplikasi pestisida.
3.        Memahami semua hal yang diperlukan dalam kalibrasi pestisida yaitu laju aliran semprot (F), lebar bidang semprot (R), kecepatan berjalan (D) dan volume cairan semprot (A).


















II.         TINJAUAN PUSTAKA


Penggolongan pestisida menurut cara masuknya ke tubuh hama dapat terbagi menjadi a). Racun perut pestisida memasuki tubuh hama melalui saluran pencernaan (perut). b). Racun kontak pestisida memasuki tubuh serangga bila serangga mengadakan kontak dengan insektisida atau serangga berjalan diatas permukaan yang telah disemprot pestisida. c). Fumigan merupakan insektisida yang mudah menguap menjadi gas dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan atau sistem trakea yang kemudian diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Menurut sifat kimianya Insektisida dapat kita bagi menurut sifat dasar senyawa kimianya yaitu dalam Insektisida Anorganik yang tidak mengandung unsur karbon dan Insektisida Organik yang mengandung unsur karbon (Raharjo, 2008).

Formulasi pestisida bahan aktif insektisida merupakan bahan penyusun terpenting, suatu formulasi pestisida untuk dipasarkan tidak diproduksikan oleh pabrik dalam bentuk murni. Bahan aktif murni hanya dibuat khusus untuk keperluan penelitian atau pengawasan mutu formulasi insektisida. Pada tingkat permulaan produksi insektisida lebih dahulu dibuat apa yang disebut bahan aktif teknis. Bahan ini merupakan campuran bahan aktif murni dan bahan antara lainnya. Agar bahan aktif teknis tersebut dapat lebih efektif dan efisien dalam mengendalikan hama sasaran yang tempat hidup dan cara hidupnya bervariasi sebelum dipasarkan, bahan teknis tersebut lebih dahulu dicampur dengan bahan penguat (sinergis) dan bahan pembantu (ajuvan). Bahan-bahan tambahan yang tidak bersifat insektisidal tersebut secara umum sering disebut inert ingredient. Pemberian bahan-bahan pembantu dapat meningkatkan adhesi atau pelekatan, pencampuran, tekanan permukaan, persistensi di


lingkungan dan sebagai pembawa insektisida. Secara umum ada banyak sekali jenis formulasi pestisida telah dikembangkan untuk kepentingan pemakai dan telah tersedia di pasar Emulsifiable Concentrate (EC), Wettable Powders (WP), Flowable Powder, Soluble Powder, Solution Dust (D), Granules (G), Aerosol Poisonous, Baits (B), Slow Release, Formulations (SR) (Raharjo, 2008).

Penanganan serangan hama penyakit pada tumbuhan dapat dilakukan dengan berbagaicara. Salah satu cara yang merupakan andalan petani adalah cara kimiawi dengan penggunaan pestisida sisntetik. Penggunaannya dengan tidak memperhatikan kaidah-kaidah dasar penggunaan pestisida secara tepat jenis, tepat sasaran, tepat dosis/konsentrasi, tepat caradan waktu aplikasi dapat membahayakan lingkungan dan konsumen.Toksisitas dibedakan menjadi toksisitas akut, toksisitas kronik, dan toksisitas subkronik. Toksisitas akut merupakan pengaruh merugikan yang timbul segera setelah pemaparan dengan dosis tunggal suatu bahan kimia atau pemberian dosis ganda dalam waktukurang lebih 24 jam. Toksisitas akut dinyatakan dalam angka LD50, yaitu dosis yang bisa mematikan(lethal dose)50% dari binatang uji (umumnya tikus, kecuali dinyatakan lain)yang dihitung dalam mg/kg berat badan. LD50 merupakan indikator daya racun yang utama,di samping indikator lain. Dibedakan antara LD50 oral (lewat mulut) dan LD50 dermal(lewat kulit). LD50 oral adalah potensi kematian yang terjadi pada hewan uji jika senyawakimia tersebut termakan, sedangkan LD50 dermal adalah potensi kematian jika hewan ujikontak langsung lewat kulit dengan racun tersebut (Djojosumarto, 2008).

Dosis adalah jumlah pestisida yang dicampurkan atau diencerkan dengan air digunakan untuk menyemprot hama atau penyakit tanaman dengan luas tertentu. Pengertian inilah sebenarnya yang dimaksud dengan tulisan “dosis” pada label kemasan pestisida. Dosis anjuran pemakaian pestisida sebaiknya dipatuhi. Pemakaiannya secara berlebihan bisa menyebabkan tanaman merana dan merusak lingkungan. Selain itu juga menyebabkan  populasi hama meledak karena malah merangsang pertumbuhannya. Pemakaian pestisida dalam dosis rendah pun menyebabkan hama atau penyakit yang dituju tidak mati. Dan mendorong timbulnya resistensi pada hama atau penyakit yang menyerang tanaman (Ngasih, 2014).

Menurut WHO (1991) penyemprotan pestisida yang tidak memenuhi aturan akan mengakibatkan banyak dampak, diantaranya dampak kesehatan bagi manusia yaitu timbulnya keracunan pada petaniyang dapat dilakukan dengan jalan memeriksa aktifitas kholinesterase darah. Faktor yang berpengaruh dengan terjadinya keracunan pestisida adalah faktor dari dalam tubuh (internal)dan dari luar tubuh (eksternal). Faktor dari dalam tubuh antara lain umur, jenis kelamin,genetik, status gizi, kadar hemoglobin, tingkat pengetahuan dan status kesehatan. Sedangkan faktor dari luar tubuh mempunyai peranan yang besar. Faktor tersebut antara lain banyaknya jenis pestisida yang digunakan, jenis pestisida, dosis pestisida, frekuensi penyemprotan, masa kerja menjadi penyemprot, lama menyemprot, pemakaian alat pelindung diri, cara penanganan pestisida, kontak terakhir dengan pestisida, ketinggian tanaman, 
suhu lingkungan, waktu menyemprot dan tindakan terhadap arah angin.

Selama ini banyak yang mengartikan volume semprot secara salah. Umumnya mereka mengartikan volume semprot hanya merupakan volume air pencampur pestisida saja. Padahal sebenarnya yang dimaksud dengan volume semprot adalah volume akhir, yaitu jumlah campuran air dengan pestisida yang disemprotkan. Ambil misal fungisida Kasumin 20 AS yang mempunyai konsentrasi formulasi 2 cc/l air dengan volume semprot 500 l/ha. Banyaknya fungisida itu untuk penyemprotan luasan 1 ha adalah 1 liter (1000 cc); maka  jumlah air pencampur yang perlu ditambahkan hanya 499 liter. Jadi, total bila keduanya dijumlahkan menjadi 500 liter. Jumlah yang terakhir itulah yang dimaksud dengan volume semprot (Ngasih, 2014).






III.  METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum ini dilakukan pada hari Jumat, 26 Mei 2017 pukul 13.30 WIB di Laboratorium Hama Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.


3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah alat tulis (pena dan kertas), kalkulator, pengukur waktu (stopwatch), tali rafia, ember plastik, gelas ukur, , alat semprot punggung (sprayer), dan meteran. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah air


3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Menentukan areal lahan yang akan diaplikasikan pestisida yaitu 5x2 meter.
2. Menghitung jumlah cairan yang diperlukan.
3. Mengisi alat semprot punggung sebanyak 5 liter air.
4. Menentukan laju aliran semprot dari nozzle dengan cara mengalirkan cairan semprot dengan tekanan yang stabil, dan didapatkan hasil 350 ml/menit.
5. Menentukan lebar bidang semprot (R) dari nozzle yang digunakan, yaitu 10 meter.
6. Menentukan kecepatan berjalan operator (D), didapatkan hasil yaitu 27 detik.
7. Menghitung volume cairan semprot (A) dengan rumus :
A = 10000 x F/(RxD)
IV.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHSAN



4.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
Kelompok
Laju aliran semprot (F= Liter/menit)
Lebar bidang semprot (R= meter)
Kecepatan berjalan (D= meter/menit)
Volume semprot (A= liter/ha)
9
340 ml/menit
10 m2
26,87 detik
760,6 l/ha
10
340 ml/menit
10 m2
18,28 detik
1118,4 l/ha
11
340 ml/menit
10 m2
22,36 detik
913,9 l/ha


4.2 Pembahasan

Dari data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa dengan luas bidang semprot 10 m2 ketiga kelompok memiliki volume semprot yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh faktor aplikan yang memang belum begitu mahir dalam pengoperasian alat aplikasi pestisida. Nozzle yang digunakan untuk pengaplikasian adalah nozzle dengan warna merah yang jangkauan semprotnya mencapai 2m. Diantara kelompok 9, 10, dan 11, kelompok 10-lah yang paling cepat berjalan dan volume semprot paling besar.
Kalibrasi adalah menghitung atau mengukur kebutuhan air suatu alat semprot untuk
luasan areal tertentu. Kalibrasi harus dilakukan pada setiap kali akan melakukan



penyemprotan yang gunanya adalah :
1.Menghindari pemborosan herbisida
2.Memperkecil terjadinya keracunan pada tanaman akibat penumpukan herbisida
3.Memperkecil pencemaran lingkungan.
4 parameter yang mempengaruhi kalibrasi sprayer, yaitu:
1.      Curah (flow rate) dari nozzle yang digunakan (C; liter/menit)
2.      Lebar gawang penyemprotan (G; meter)
3.      Kecepatan aplikasi (K; meter/menit)
4.      Volume aplikasi (V; liter/hektar)


Dosis adalah jumlah pestisida yang dicampurkan atau diencerkan dengan air digunakan untuk menyemprot hama atau penyakit tanaman dengan luas tertentu. Pengertian inilah sebenarnya yang dimaksud dengan tulisan “dosis” pada label kemasan pestisida. Dosis anjuran pemakaian pestisida sebaiknya dipatuhi. Pemakaiannya secara berlebihan bisa menyebabkan tanaman merana dan merusak lingkungan. Selain itu juga menyebabkan  populasi hama meledak karena malah merangsang pertumbuhannya. Pemakaian pestisida dalam dosis rendah pun menyebabkan hama atau penyakit yang dituju tidak mati. Dan mendorong timbulnya resistensi pada hama atau penyakit yang menyerang tanaman (Ngasih, 2014).

Formulasi pestisida bahan aktif insektisida merupakan bahan penyusun terpenting, suatu formulasi pestisida untuk dipasarkan tidak diproduksikan oleh pabrik dalam bentuk murni. Bahan aktif murni hanya dibuat khusus untuk keperluan penelitian atau pengawasan mutu formulasi insektisida. Pada tingkat permulaan produksi insektisida lebih dahulu dibuat apa yang disebut bahan aktif teknis. Bahan ini merupakan campuran bahan aktif murni dan bahan antara lainnya. Agar bahan aktif teknis tersebut dapat lebih efektif dan efisien dalam mengendalikan hama sasaran yang tempat hidup dan cara hidupnya bervariasi sebelum dipasarkan, bahan teknis tersebut lebih dahulu dicampur dengan bahan penguat (sinergis) dan bahan pembantu (ajuvan). Secara umum ada banyak sekali jenis formulasi pestisida telah dikembangkan untuk kepentingan pemakai dan telah tersedia di pasar Emulsifiable Concentrate (EC), Wettable Powders (WP), Flowable Powder, Soluble Powder, Solution Dust (D), Granules (G), Aerosol Poisonous, Baits (B), Slow Release, Formulations (SR) (Raharjo, 2008).

Volume semprot adalah volume akhir, yaitu jumlah campuran air dengan pestisida yang disemprotkan. Ambil misal fungisida Kasumin 20 AS yang mempunyai konsentrasi formulasi 2 cc/l air dengan volume semprot 500 l/ha. Banyaknya fungisida itu untuk penyemprotan luasan 1 ha adalah 1 liter (1000 cc); maka  jumlah air pencampur yang perlu ditambahkan hanya 499 liter. Jadi, total bila keduanya dijumlahkan menjadi 500 liter. Jumlah yang terakhir itulah yang dimaksud dengan volume semprot (Ngasih, 2014).

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyemprotan pestisida adalah:
1.        Ukuran butiran semprot yang ideal adalah 150 mikron. Butiran yang terlalu kecil akan mudah terbawa angin.
2.        Dilakukan kalibrasi untuk menentukan volume semprot yang akan diberikan.
3.        Kecepatan berjalan yang ideal, yakni 6 km/jam.
4.        Arah sudut sprayer idealnya adalah 45o .
5.        Suhu udara satu atau dua jam setelah penyemprotan harus konstan atau turun. Karena jika terlalu panas, maka pestisida akan menguap.
6.        Kelembaban udara yang idealnya saat pagi hari dengan kelembaban lebih dari 80%.
7.        Kecepatan angin ideal adalah 4-6km/jam. Lebih dari itu, pestisida akan hilang terbawa angin (Moekasan dan Prabaningrum, 2015).






V.                KESIMPULAN



Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah:
1.        Sebelum aplikasi pestisida, kalibrasi adalah hal terpenting yang harus selalu di ukur.
2.        Volume semprot terbesar ada pada kelompok 10.
3.        Faktor yang mempengaruhi keberhasilan aplikasi pestisida yaitu, suhu kelembaban, ukuran butiran semprot, volume semprot, kecepatan berjalan, kecepatan angin, dan arah sprayer pada bidang semprot.
4.        Perbedaan nilai kalibrasi ini dipengaruhi oleh ketrampilan praktikan dalam mengoperasikan alat.
5.        Penggunaan dosis, konsentrasi, dan volume semprot harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi pemborosan pestisida yang akan berakibat buruk pada lingkungan dan manusia.










DAFTAR PUSTAKA




Hardjowigeno. S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. CV Akademika          Presindo. Jakarta

Raharjo, B. T. 2012. Ilmu Hama Tanaman. Kuliah Ilmu Hama Tanaman. FP-UB.       Malang

Djojosumarto, Panut. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian Edisi Revisi.         
            Kanisius. Yogyakarta.

Ngasih. 2014. Dosis, Konsentrasi dan Volume Semprot Pestisida.    http://ngasih.com/2014/07/25/dosis-konsentrasi-dan-volume-semprot-  pestisida Diakses pada 1 Juni 2017 Pukul 22.05 WIB.

Moekasan. T., K., dan L. Prabaningrum. 2015. Teknik Aplikasi Pestisida. Balitsa.   Bandung


























LAMPIRAN

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN MENGGUNAKAN PESTISIDA SINTETIK 2. PENGUJIAN SECARA IN VITRO

PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN MENGGUNAKAN PESTISIDA SINTETIK
2. PENGUJIAN SECARA IN VITRO
(Laporan Praktikum Pengendalian Penyakit Tanaman)






Oleh

Farida Lukmi
1514121052
Kelompok 1





Image result for logo unila hitam putih







JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I.                   PENDAHULUAN




1.1    Latar Belakang

Fungisida merupakan pestisida yang digunakan untuk mengendalikan jamur patogen tumbuhan. Sampai masa perang Dunia H hampir seluruh fungisida yang digunakan merupakan fungisida anorganik yang terdiri atas fungisida tembaga dan belerang anorganik. Fungisida-ungisida ini dikenal dengan fungisida generasi pertama. Setelah Perang dunia H mulai berkembang pestisida organik, yaitu fungisida karbamat yang dianggap sebagai fungisida generasi kedua. Mulai tahun 1960-an fungisida sistemik dengan bahan aktif oksatiin yang dapat diserap tumbuhan dan diangkut melalui xilem yang terdiri atas sel-sel mati dari bawah ke atas yang dikenal dengan fungisida generasi ketiga. Akhirnya berkembang fungisida sistemik yang dapat diangkut ke atas melalui xilem maupun ke bawah melalui floem, antar lain fungisida yang berbahan aktif asilalanin yang dikenal sebagai fungisida generasi keempat (Semangun, 1996). 

Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan agar penggunaan pestisida dapat digunakan secara efektif, peredaran, penyimpanan, dan penggunaan pestisida di wilayah Indonesia diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973. Pelaksanaan peraturan tersebut ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 280/1973 dan No. 944/1984 tentang Prosedur Permohonan Pendaftaran dan Izin Pestisida, dan No. 429/1973 tentang Syarat-syarat Pembungkusan dan Pemberian Label Pestisida.



Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang kian hari kian meningkat, petani mau tidak mau harus terus menggenjot produktivitas tanaman dengan melindunginya dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).  Salah satu cara yang dianggap ampuh selama ini untuk mengendalikan OPT adalah dengan pengaplikasian pestisida sintetik, namun pengaplikasiannya juga harus disesuaikan dengan peraturan pemerintah. Untuk menguji efektivitas dari suatu pestisida sebelum diaplikasikan ke lapangan, tentu perlu dilakukan pengujian secara in vitro dahulu agar hasil pengendalian yang diperoleh nantinya adalah optimal.

1.2    Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah:
1.        Mengetahui kemampuan pestisida untuk menghambat perkembangan patogen secara in vitro.
2.        Mengetahui berapa dosis optimal yang dapat digunakan untuk mengendalikan patogen Colletotrichum capsici.
















II.     METODOLOGI PRAKTIKUM



2.1  Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cawan petri, erlenmeyer, bor gabus, jarum ent, bunsen, tissue dan LAF (Laminar Air Flow).

Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah biakan murni Colletotrichum capsici, media PSA, fungisida dan alkohol.


2.2  Prosedur Kerja

Prosedur kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Dibuat PSA yang mengandung fungisida 1000, 500, dan 0 ppm
2.      Dituang ke dalam cawan petri steril
3.      Diletakkan 1 potongan bor gabus biakan murni jamur Colletotrichum capsici di tengah cawan petri
4.      Diukur diameter koloni secara vertikal dan horizontal 3 hari sekali selama 15 hari.





III.      HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


3.1    Hasil Pengamatan

Adapun hasil yang didapat dari praktikum ini adalah:


























Hari



Diameter koloni (cm)
Kontrol
1000 ppm
500 ppm
V
H
V
H
V
H
Senin
1,6
2,8
0,6
0,8
0,7
0,7
Jumat
3,2
4,4
0,7
0,8
0,8
0,8
Senin
5,3
6,4
0,7
0,8
1,3
1,5


3.2    Pembahasan

Fungisida delsene MX 80 WP merupakan fungisida protektif  kuratif dan zat pengatur tumbuh untuk tanaman cabai, cengkeh, jagung kacang tanah, karet, kentang, padi, tembakau. Fungisida delsene 80 WP mengandung bahan aktif Carbendazim dan Mancozeb. Perpaduan antara Mancozeb dan Carbendazim adalah begitu apik untuk pengendalian penyakit antraknosa pada cabai. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hersanti dkk (2001), penggunaan campuran Benzothiadiazola 1% dengan Mancozeb 48% dengan konsentrasi 5g/l dan 2,5 g/l adalah efektif untuk mengendalikan penyakit antraknosa di lapangan dengan kisaran persentase penekanan sebesar 90-96%.


Fungisida yang paling efektif menghambat pertumbuhan miselium Colletotrichum sp. berturutturut adalah benomil, tiofanat metil, campuran mankozeb karbendazim, campuran mankozebmetalaksil, klorotalonil, mankozeb, dan tembaga hidroksida. Hal ini dapat juga dilihat pada hasil analisis data rerata diameter jamur yang menunjukkan bahwa setiap fungisida memiliki respons yang beragam terhadap perkembangan miselium jamur. Tembaga hidroksida merupakan pestisida yang dikenal efektif mengendalikan Colletotrichum sp., namun hasil uji in vitro menunjukkan bahwa fungisida tembaga hidroksida memiliki daya hambat yang paling rendah terhadap pertumbuhan jamur (Widyastuti et al, 2011) .

Pada praktikum ini terlihat bahwa pertumbuhan jamur Colletotrichum capsici cukup terhambat dengan adanya pestisida Delsene yang mengandung bahan aktif Mancozeb. Kandungan Mancozeb pada pestisida Delsene adalah mencapai 73,8% pada tiap kemasannya. Perbedaan diameter jamur C. capsici pada cawan petri yang menunjukkan bahwa dengan konsentrasi 1000 ppm adalah dengan penghambatan tertinggi dibandingkan dengan 500 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa, semakin tinggi  konsentrasi pestisida, maka daya hambatnya pun semakin tinggi. Namun penggunaan pestisida sintetik harus tetap di kontrol untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan.













IV.             KESIMPULAN



Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah:
1.        Secara in vitro dosis yang paling optimum untuk pengendalian antraknosa cabai adalah 1000 ppm.
2.        Pada kondisi lapangan penghambatan 90-96% dengan penggunaan campuran Benzothiadiazola 1% dengan Mancozeb 48% dengan konsentrasi 5g/l dan 2,5 g/l.
3.        Fungisida tembaga hidroksida memiliki daya hambat yang paling rendah terhadap pertumbuhan jamur.















DAFTAR PUSTAKA



Hersanti, F. Ling dan I. Zulkarnaen., 2001. Pengujian kemampuan campuran senyawa       Benzithiadiazole 1%-Mancozeb 48% dalam meningkatkan katahanan        tanaman cabai merah terhadap penyakit antraknosa. Prosiding Kongres      Nasional XVI dan Seminar Hasil PFI. Bogor, 22-24 Agustus 2001.

Semangun,H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Universitas Gajah Mada             Press. Yogyakarta.

Widyastuti, Ani. W. Agustina., A. Wibowo., & C. SUmardiono. 2011. Uji efektivitas        pestisida terhadap beberapa patogen penyebab penyakit penting pada buah        naga (Hylocereus sp.) secara in vitro.  Jurnal Perlindungan Tanaman                      Indonesia Vol. 17(2): hal 73-76



































L A M P I R A N





















  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS